Selamat Datang

Sahabat Blog Adalah Kumpulan Coretan Akan Keresahan,Akan Kecitacitaan,Yang Dilampiaskan Dalam Tataran Ide Dan Gagasan Semoga Sahabat Dan Sahabat (i),Dapat Menemukan Sesuatu Yang Bermamfaat Di Blog Ini.

Sabtu, 12 November 2011

TRIASE


                                                                     TRIASE 

Triase
Triase adalah melakukan indentifikasi secara cepat korban yang membutuhkan stabilisasi segera. Pemberian tanda / lebel yang digunakan secara internasional yaitu warna (Merah, Kuning , dan Hijau) o Lebel Merah : sebagai penanda korban yang butuh stabilisasi segera o Lebel Kuning : sebagai penanda yang memerlukan pengawasan ketat, tapi perawatan dapat ditunda o Lebel Hijau :Sebagai penanda kelompok korban yang tidak memerlukan pengobatan atau pemberian pengobatan dapat ditunda o Lebel Hitam : Sebagai penanda korban telah meninggal dunia
Triase ditempat
Triase yang dilakukan ditempat korban ditemukan atau pada tempat penampungan yang dilakukan pada penemu pertama
Triase Evakuasi
Triase yang diitujukan pada korban yang dapat dipindahkan ke rumah sakit yang telah siap menerima korban bencana massal
Triase Medik
Triase yang dilakukan pada saat korban memasuki pos medis lanjutan dan dilakukan oleh tenaga medis yang berpengalaman

Tujuan dari Triase adalah:
1.      Identifikasi cepat korban yang memerlukan stabilisasi segera (perawatan di lapangan)
2.      Identifikasi korban yang hanya dapat diselamatkan dengan pembedahan (life-saving surgery)
Triase dilakukan berdasarkan observasi terhadap tiga hal, yaitu:
1.      Pernapasan (respiratory)
2.      Sirkulasi (perfusion); dan
3.      Status mental (mental state)

START (Simple Triage And Rapid Assessment) merupakan sistem triase sederhana yang dapat dilakukan oleh orang yang dilatih walaupun tidak mendalam (lightly trained) dan petugas paramedik yang dapat secara cepat dan akurat memilah korban dan membaginya ke kelompok-kelompok perawatan.
START membagi korban menjadi empat kelompok. Ada yang memulai membagi dari korban yang memiliki cedera paling ringan, tapi ada juga yang membagi dari korban yang telah meninggal. Sistem ini sangat sederhana untuk dipelajari dan sangat berguna pada keadaan dimana sumber daya medis yang ada kurang sampai datangnya bantuan tambahan. Triase akan lebih baik jika penolong memiliki triage tag, jika tidak ada dapat digunakan marker, spidol atau lipstick yang ditulis di dahi korban berupa ‘D’ untuk deceased, ‘I’ untuk immediate, ‘DEL’ untuk delayed atau ‘M’ untuk minor.


Triase 1
Dengan jelas dan keras, perintahkan para korban yang terlihat sadar untuk bangun dan berjalan ke tempat yang lebih aman dimana tim medis berada dan dimana mereka akan mendapat pertolongan lebih lanjut. Seseorang yang dapat berjalan, dianggap tidak memerlukan pertolongan segera walaupun mengalami cedera, walaupun begitu kategori/kriteria mereka dapat berubah. Orang-orang ini biasa disebut ‘walking wounded’, merekalah yang dapat diberdayakan untuk membantu tim medis dalam mengevakuasi ataupun merawat korban yang lebih berat. Orang-orang ini biasa diberi green tag atau diberi tanda ‘M’. Korban yang termasuk dalam kategori ini adalah korban dengan luka ringan, fraktur ringan atau luka bakar minor.
Triase 2
Pada korban yang tersisa, periksa keadaan, secara berturut-turut, respirasi, perfusi dan status mental.
Respiratory Assessment
Jika terdapat seorang korban yang tidak bernapas, perbaiki posisi kepala dan bebaskan jalan napas. Jika pernapasan spontan tidak juga muncul beri korban tanda black tag atau tanda ‘D’. Jangan coba untuk melakukan RKP, karena banyak pasien yang mungkin meninggal sementara kita menolong korban ini.

Perfusion Assessment
Jika korban bernapas, periksa frekuensinya, apabila lebih dari 30 kali/menit, dengan ujung kaki dan tangan dingin, basah dan pucat, kemungkinan kotban akan mengalami syok. Beri tanda red tag atau tanda ‘I’, kemudian baringkan korban, tinggikan tungkai bawah (posisi syok) dan selimuti dengan jaket, selimut atau pakaian yang kering.
Jika korban yang didapatkan bernapas dengan frekuensi kurang dari 30 kali/menit, periksa perfusinya (sirkulasi darah) dengan menekan dan lalu melepas ujung kuku, jika ujung kuku kembali merah muda dalam waktu lebih dari dua detik, beri korban red tag atau tanda ‘I’. Kontrol perdarahan yang signifikan dengan melakukan direct pressure dapat dilakukan pada tahap ini.

Mental State Assessment
Jika korban bernapas kurang dari 30 kali/menit, dengan capillary refill kurang dari dua detik, kemudian periksa status mentalnya. Tanyakan nama dan apa yang telah terjadi. Jika korban tidak dapat menjawab, atau menjawab dengan tidak jelas (meracau), tanyakan lagi, katakan bahwa Anda bertanya untuk memastikan apakah status mental korban baik. Jika korban bingung, itu mungkin pertanda dari kerusakan/cedera pada otak, beri red tag atau tanda ‘I’. Korban yang termasuk dalam kategori ini yaitu korban trauma capitis dengan pupil anisokor, gangguan pernapasan, atau korban dengan perdarahan eksternal massif. Jika korban dapat menjawab dengan baik dan memiliki orientasi yang baik beri tanda ‘DEL’ atau beri yellow tag yang menandakan bahwa korban cukup stabil dan dapat mentoleransi penundaan ke rumah sakit. Korban yang termasuk dalam kategori ini yaitu korban dengan resiko syok, korban dengan fraktur multipel, korban dengan fraktur femur/pelvis, korban dengan luka bakar luas, korban dengan gangguan kesadaran serta korban dengan status tidak jelas.

Triase 3
Lakukan evaluasi pada korban dengan red tag untuk memberikan pertolongan pertama. Beri pertolongan pertama pada korban, jika jumlah paramedis tidak memadai, latih dengan cepat korban dengan minor injuries ataupun orang di sekitar tempat kejadian untuk melakukan tindakan resusitasi/pertolongan pertama pada korban.

Triase 4
Lakukan evaluasi pada korban dengan yellow tag untuk memberikan pertolongan. Beri pertolongan kepada korban dengan memberdayakan korban dengan minor injuries, orang di sekitar tempat kejadian ataupun korban sendiri untuk melakukan tindakan pengobatan dengan mengajarkan kepada mereka apa yang harus dilakukan.

Triase 5
Tempatkan beberapa orang paramedis, jika paramedis kurang, latih beberapa korban minor injuries untuk mengawasi korban ringan lain dari tanda-tanda syok. Jika waktu memungkinkan, periksa semua korban untuk tanda-tanda syok. Periksa akan adanya pernapasan yang cepat, wajah pucat dengan ujung kaki dan tangan dingin yang merupakan tanda awal syok. Usahakan agar semua korban berada dalam keadaan hangat dan kering untuk menghindari kemungkinan terjadinya syok karena hipotermia.

Evacuation Triage
Selain on-site triage, terdapat pula evacuation triage yang dilakukan dalam memprioritaskan korban yang akan dievakuasi ke rumah sakit.
  • Korban ‘D’ ditinggalkan di tempat mereka jatuh, ditutupi seperlunya.
  • Korban ‘I’ merupakan prioritas utama dalam ecakuasi karena korban ini memerlukan perawatan medis lanjut secepatnya atau paling lambat dalam satu jam (golden hour).
  • Korban ‘DEL’ dapat menunggu evakuasi sampai seluruh korban ‘I’ selesai ditranspor.
  • Jangan evakuasi korban ‘M’ sampai seluruh korban ‘I’ dan ‘DEL’ selesai dievakuasi. Korban ini dapat menunda perawatan medis lanjut sampai beberapa jam lamanya. Re-triase korban tetap dilakukan untuk melihat apakah keadaan korban memburuk.

Reverse Triage
Sebagai tambahan pada standar triase yang dijalankan, terdapat beberapa kondisi dimana korban dengan cedera ringan didahulukan daripada korban dengan cedera berat. Situasi yang memungkinkan dilakukan reverse triage yaitu pada keadaan perang dimana dibutuhkan prajurit yang terluka untuk kembali ke medan pertempuran secepat mungkin. Selain itu, hal ini juga mungkin dilakukan bila terdapat seumlah besar paramedis dan dokter yang mengalami cedera, dimana akan merupakan suatu keuntungan jika mereka lebih dulu diselamatkan karena nantinya dapat memberikan perawatan medis kepada korban yang lain.
Salah Satu Pasien Ketika Sedang Di Triase Oleh Sahabat - Sahabat


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan,,,,

window.setTimeout(function() { document.body.className = document.body.className.replace('loading', ''); }, 10);